Aichiro Suryo Prabowo (@AichiroSuryo)

Aichiro Suryo Prabowo adalah alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Ketika SMA, Chiro pernah mengikuti program pertukaran pelajar internasional ke Belgia selama 1 tahun. Di sana, Chiro tinggal bersama keluarga angkat, berangkat ke sekolah, dan menjadi bagian dari masyarakat layaknya pemuda Belgia yang lain. Tidak hanya berkesempatan mencicipi cokelat Belgia, main ski, dan mempelajari bahasa Belanda, tetapi hidup jauh dari keluarga dan tanah air Indonesia benar-benar memberikan ilmu hidup yang luar biasa: tentang kemandirian, toleransi, nasionalisme, juga perdamaian dunia. Chiro kini adalah kandidat Master of Public Policy di University of Chicago, USA

“Indonesia bangkit, saat para pemudanya mendeklarasikan persatuan di atas keberagaman. Indonesia bertahan, saat para pemudanya memahami persatuan di atas keberagaman. Indonesia maju, saat para pemudanya mengedepankan persatuan di atas keberagaman. Saya percaya, Gerakan Sabang Merauke merupakan salah satu jalan yang dapat mewujudkannya nyata.”
Aichiro Suryo Prabowo

Ayu Kartika Dewi (@ayu_kartikadewi)

Selepas lulus dari Universitas Airlangga, Ayu bergabung dengan Procter & Gamble dan berkelana ke Singapore. Sepulang dari menjadi Pengajar Muda – Indonesia Mengajar di Maluku Utara, ia bergabung di UKP4. Kini, penerima Beasiswa Fulbright dan Beasiswa Keller ini sedang mengejar gelar MBA di Duke University, USA.

“Saya mendukung SabangMerauke karena saya percaya bahwa toleransi itu tidak bisa hanya dibaca di buku PPKN. Toleransi itu harus dialami, harus dirasakan.”
Ayu Kartika Dewi

Dyah Widiastuti (@dyahwie)

Dyah Widiastuti adalah alumnus Universitas Gadjah Mada. Dyahwie lahir dan besar di Sleman, DI Yogyakarta dalam kultur homogen Jawa-Muslim. Di akhir masa kuliah S1nya, Dyahwie mengikuti program pertukaran mahasiswa di Universitas Tokyo, Jepang. Pengalaman setahun ini meyakinkannya bahwa kelompok mayoritas yang toleran lebih mudah dibangun ketika mereka pernah hidup sebagai minoritas yang diperlakukan dengan baik. Keyakinan ini diperkuat oleh pengalaman setahun tinggal di kota paling kosmopolitan di dunia, London, Inggris untuk studi S2nya, dengan beasiswa Chevening. Saat ini Dyahwie bekerja sebagai pegawai negeri sipil, dan berharap pembelajaran mengenai toleransi dari Tokyo dan London tersebut dapat memberikan masukan untuk kebijakan publik terkait.

“Saya mendukung SabangMerauke karena saya ingin sebanyak mungkin anak Indonesia berkesempatan untuk mengenal, memahami, mencintai, dan berbangga menjadi Indonesia. Anak-anak inilah yang nanti akan berbakti kepada rakyat dan bangsa.”
Dyah Widiastuti