Sabang Merauke

5 Tips Naik Gunung untuk Lansia dengan Aman


sabangmerauke.id – Informasi dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) menunjukkan bahwa ada seorang pendaki yang tragis meninggal dunia di wilayah tersebut pada Sabtu (28/10/2023).

Pendaki tersebut, yang usianya mencapai 66 tahun, diduga meninggal dunia akibat kelelahan dalam usahanya.

Rahman Muhklis, Ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), menyatakan bahwa APGI tidak memiliki aturan tertulis mengenai batasan usia maksimal untuk pendakian gunung.

Menurut kabar yang beredar, regulasi untuk akses gunung-gurun tersebut dapat ditemukan baik di pemerintahan maupun pada pihak swasta yang bertanggung jawab sebagai pengelola gunung-gurun tersebut.

Menurut Rahman, beberapa gunung juga memiliki batasan usia minimal dan maksimal bagi pendaki. Hal ini ditegaskannya saat berbicara dengan Kompas.com melalui telepon pada Kamis (2/11/2023).

Tips Aman Naik Gunung untuk Lansia

Agar terhindar dari pengulangan kejadian serupa, terdapat beberapa tips penting yang perlu diperhatikan oleh calon pendaki, khususnya mereka yang sudah lanjut usia.

1. Menjaga kesehatan agar tetap prima.

Saat seseorang berencana untuk mendaki, kesehatan menjadi prioritas utama yang harus diperhatikan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rahman.

Sejumlah pendaki dari berbagai daerah mulai berdatangan di Pos Pendakian Palutungan, Rabu (16/8/2023). Mereka melakukan registrasi, pemeriksaan peralatan, kesehatan dan lainnya untuk menuju puncak Gunung Ciremai. Pengelola sebut jumlah pendakian meningkat.

Sumber gambar: Kompas Travel

Dia menekankan bahwa pentingnya kesadaran sebelum mendaki, termasuk memastikan kondisi kesehatan dan kebugaran tubuh sebelumnya.

Untuk memastikan keadaan sehat, disarankan untuk memiliki surat kesehatan yang dapat menjadi bukti. Lebih baik lagi jika sebelumnya berkonsultasi dengan dokter atau tim medis yang relevan.

Pendaki sebaiknya senantiasa memelihara kebugaran tubuh sebelum mendaki gunung, tanpa memandang usia mereka. Salah satu cara yang efektif adalah melatih fisik melalui olahraga lari.

2. Periksa persiapan peralatan dan bahan makanan.

Pastikan semua perlengkapan dan perbekalan yang diperlukan sudah siap untuk digunakan dengan aman dan nyaman.

Menurut Rahman, penting bagi kita untuk menggunakan perlengkapan diri yang aman dan nyaman dari kepala hingga kaki.

Ilustrasi berkemah.

Sumber gambar: Kompas Travel

Ada beberapa barang yang perlu dibawa selama perjalanan, seperti jaket, jas hujan, sleeping bag, dan head lamp.

Penting bagi seorang pendaki untuk memastikan asupan makanannya berkualitas dan bergizi. Selain itu, penting juga untuk menghindari keterlambatan dalam makan dan kekurangan cairan agar tubuh tetap kuat selama berada di lapangan.

Pentingnya membawa PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) dan obat pribadi tidak boleh dilupakan. Khusus bagi lansia yang rutin mengonsumsi obat tertentu, penting untuk selalu membawanya guna menjaga daya tahan tubuh.

Menurut Rahman, perlengkapan PPP3 menjadi kebutuhan penting yang harus dibawa sebagai langkah antisipatif dalam memberikan pertolongan awal ketika terjadi kejadian yang tak diinginkan.

Terlebih lagi, saat ini kita sedang memasuki fase peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Dalam situasi ini, keberadaan perlengkapan PPP3 sangatlah krusial.

Dia mengatakan bahwa tantangan di musim kemarau meliputi angin kencang dan risiko kebakaran, sedangkan di musim hujan juga tidak kalah menantang dengan adanya hujan lebat, suhu dingin, dan badai. Oleh karena itu, sangat penting untuk memastikan keamanan dalam dua kondisi tersebut.

3. Jangan dipaksakan jika merasa kelelahan.

Seorang pendaki sebaiknya memiliki kesadaran atas kondisi tubuhnya dan tidak memaksa diri untuk melanjutkan mendaki ketika merasa lelah, demikian yang juga ditegaskan oleh Rahman.

Pendaki yang mengalami kelelahan dapat dikenali melalui gejala seperti denyut jantung yang berpacu, kulit wajah yang pucat, serta napas yang terengah-engah.

Dua pendaki menggapai Puncak Gunung Halau-halau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel.

Sumber gambar: Kompas Travel

Menurut Rahman, umumnya detak jantung seseorang dapat terdeteksi melalui perangkat pengukur yang terpasang pada jam tangan pintar atau dengan melakukan perhitungan manual denyut nadi pada pergelangan tangan.

Detak jantung tiap individu berbeda-beda, apabila detaknya terlalu cepat, perlu untuk beristirahat dulu, berhenti sejenak, tidak melakukan aktivitas.

Observasi lelah yang dirasakan bisa dilakukan saat istirahat. Apabila merasa terlalu lelah, sebaiknya tidak memaksa diri untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, begitu kata Rahman.

Jika Anda merasa lebih baik untuk turun kembali ke pos awal, disarankan bagi pendaki untuk kembali ke pos awal dengan tujuan menghindari potensi kecelakaan karena kelelahan.

4. Dapatkan bantuan dari pemandu.

Bagi pendaki pemula terutama lansia, sangat dianjurkan untuk memanfaatkan jasa pemandu pendakian. Dengan mengikuti layanan kepemanduan, selama perjalanan mendaki akan mendapat dukungan dari biro perjalanan, operator tur, pemandu, serta porter yang akan membantu mengurus barang bawaan. Dengan demikian, perjalanan mendaki akan menjadi lebih aman dan menyenangkan.

Menurut Rahman, melakukan pendakian tanpa pemandu dan porter adalah pilihan yang dapat dilakukan bagi mereka yang ingin mandiri. Akan tetapi, penting untuk memastikan bahwa dalam satu tim terdapat anggota yang sudah berpengalaman.

5. Tips memilih gunung dan jalur pendakian yang tepat.

Pemandangan di Gunung Prau, Jawa Tengah.

Sumber gambar: Kompas Travel

Bagi para pendaki lansia, sangat disarankan untuk memilih gunung dan rute pendakian yang sesuai dengan kekuatan fisik mereka.

Mereka meyakinkan agar memilih jalur yang lebih mudah agar orang-orang yang sudah lanjut usianya dapat merasa nyaman, karena jalur yang tidak terlalu sulit.

Itu tadi beberapa tips naik gunung yang aman untuk lansia. Persiapan yang matang sebelum mendaki menjadi sangat penting, mengingat usia tidak lagi muda.

Sumber: Kompas Travel